🍷 Testimoni Colidan Untuk Gerd

GERDatau Gastroesophageal Reflux Disease adalah penyakit lambung akibat refluks asam lambung merupakan masalah kesehatan yang cukup umum, terjadi karena adanya gangguan pada lower esophageal sphincter yang merupakan katup penghubung antara lambung dan kerongkongan.Akibatnya, asam lambung yang seharusnya tetap berada di perut, naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi terbakar di dada Gastroesophagealmengacu pada perut atau esofagus. Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau asam lambung, terjadi saat asam lambung naik ke esofagus dan menimbulkan rasa terbakar di dada. Dalam proses pencernaan normal, sfingter esofagus bawah akan terbuka untuk memudahkan makanan bergerak masuk ke dalam perut dan menutup kembali untuk menghindari makanan dan asam lambung bergerak kembali TestimoniSOP100 Untuk Gerd Hubungi 0812 1133 1848 Asli Jepang AFC HALAL Teregistrasi BPOM Bahan Organik. Semakin hari semakin banyak kesaksian untuk. Untuk INFO dan PEMESANAN : SOP 100+, SOP SUBARASHI, UTSUKUSSHHII atau SENSEI SURU , Hubungi ALEX di 0812.1133.1848 ORIFLAKESuntuk maag dan asam lambung. ORIFLAKES sereal alami cegah MAAG dan ASAM LAMBUNG, ORIFLAKES juga dapat membantu proses DIET. ORIFLAKES berbahan utama UMBI GARUT yang dapat memenuhi serat harian Anda. Ya, Umbi garut sangat baik untuk kesehatan pencernaan terutama untuk meredakan MAAG dan ASAM LAMBUNG. MAAG dan Asam lambung naik dapat dirasakan oleh siapa saja, apalagi yang sering Sampaisekarang ini suplemen asam lambung yang terpercaya khasiatnya dan aman untuk dikonsumsi serta jadi andalan untuk mengobati saat gangguan lambung mendera adalah Colidan. Colidan merupakan suplemen herbal yang terbuat dari bahan-bahan alami, yaitu sari ganggang laut yang berasal dari perairan laut lepas Okinawa, Jepang, yaitu Mozuku atau bisa disebut Fucoidan. Tagged bravo test gerd, gerd diagnostic test, gerd test, impedance testing gerd, ph test gerd, testimoni colidan untuk gerd. Gastroesophageal Reflux Disease Gerd Diagnosis And 081211331848WA | Testimoni SOP 100 Untuk Gerd HALAL Teregistrasi BPOM Bahan Organik Original Jepang AFC. Semakin hari semakin banyak testimoni untuk INFO dan PEMESANAN SOP SUBARASHI SOP 100+ UTSUKUSHHII atau SENSEI SURU, SILAHKAN HUBUNGI ## ALEX LEWI ## No HP ## 0812.1133.1848 ## (WA/TLP/SMS) 081211331848WA | Testimoni SOP 100+ Untuk Gerd di Surabaya Terdaftar BPOM Halal Organik Original AFC Jepang. Semakin hari semakin banyak kesaksian untuk UNTUK INFO/PEMESANAN : SOP100+, SOP SUBARASHI, UTSUKUSHHII dan SENSEI SURU, SILAHKAN HUBUNGI - ALEX 081211331848 TestimoniSOP100 Untuk Gerd Hubungi 0812 1133 1848 Original Jepang Asayama Family Club HALAL Terdaftar BPOM Berbahan Organik. Semakin hari semakin banyak Untuk INFO dan PEMESANAN : SOP 100+, SOP SUBARASHI, UTSUKUSSHHII atau SENSEI SURU , Hubungi ALEX di 0812.1133.1848 8MQvAn. Anda dapat menurunkan risiko terserang penyakit asam lambung dengan menghindari dan mengendalikan faktor risiko yang Anda miliki. Konsultasikan kepada dokter untuk mencari tahu informasi lebih lanjut. Tanda dan gejala GERD Tanda utama dari penyakit GERD yaitu saat asam lambung yang seharusnya tetap berada di dasar lambung dan justru naik kembali ke atas. Ini terjadi akibat terbukanya otot-otot pembatas antara lambung dan kerongkongan. Kebocoran asam menimbulkan sensasi terbakar pada ulu hati dan dada heartburn yang bisa menjalar ke perut dan punggung. Hal ini biasanya bisa semakin memburuk ketika Anda selesai makan, sedang berbaring, atau membungkuk. Secara garis besar, gejala gastroesophageal reflux disease GERD yakni sebagai berikut. Merasa seperti ada makanan yang tersangkut di dalam kerongkongan, sulit menelan, serta cegukan. Mengalami sensasi panas seolah terbakar di dada heartburn, yang bisa menyebar sampai ke leher. Sakit atau nyeri pada ulu hati. Timbul rasa asam atau pahit di mulut. Ada cairan atau makanan yang naik dari dalam perut ke bagian mulut. Masalah pernapasan, seperti batuk kronis dan asma. Suara serak. Sakit tenggorokan. Kemungkinan masih ada tanda­-tanda dan gejala penyakit GERD lainnya yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda khawatir akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah segera kepada dokter Anda. Kapan harus periksa ke dokter? Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala seperti sesak napas dan nyeri pada dada. Apalagi jika gejala penyakit ini sering muncul atau bahkan semakin bertambah buruk setiap hari. Kondisi tubuh setiap orang sangat berbeda. Inilah yang membuat gejala yang dialami setiap orang tidak sama. Selalu konsultasikan gejala yang Anda alami kepada dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan Anda. Penyebab dan faktor risiko Apa penyebab penyakit GERD? Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kenaikan asam dari lambung sebenarnya umum terjadi. Kondisi ini paling sering dipicu oleh kebiasaan makan dalam porsi yang banyak, langsung berbaring setelah makan, atau konsumsi jenis makanan tertentu. Bedanya, kenaikan asam lambung yang tergolong sebagai penyakit GERD memiliki penyebab tersendiri. Penyebab GERD yang utama yakni melemahnya sfingter kardia, yaitu otot-otot berbentuk cincin yang membatasi lambung dan kerongkongan. Sfingter kardia seharusnya selalu dalam posisi tertutup untuk mencegah naiknya asam lambung dan makanan yang sedang dicerna kembali menuju kerongkongan. Katup ini baru akan terbuka ketika makanan di mulut akan masuk ke dalam perut. Pada penderita GERD, yang terjadi justru sebaliknya. Otot-otot sfingter kardia menjadi lemah sehingga sfingter dapat membuka meski tidak ada makanan yang bergerak dari kerongkongan. Akibatnya, asam lambung bisa naik sewaktu-waktu. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, asam lambung dapat menyebabkan peradangan dan iritasi pada dinding kerongkongan esofagitis. Ini karena asam lambung termasuk jenis asam kuat yang bersifat mengikis. Apa yang meningkatkan risiko seseorang terkena refluks asam lambung? Penyakit GERD dapat menyerang siapa dan biasanya lebih banyak ditemukan pada orang dewasa. Namun, ada beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi rentan dengan penyakit ini. Di bawah ini berbagai faktor risiko yang meningkatkan risiko Anda untuk terkena penyakit GERD. Memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Memiliki tonjolan pada perut bagian atas yang bisa naik sampai ke diafragma hernia hiatal. Mengalami masalah pada jaringan ikat, contohnya scleroderma. Mengosongkan perut dalam waktu yang lama. Selain itu, di bawah ini beberapa faktor lainnya yang bisa turut memperburuk gejala GERD. Kebiasaan merokok. Makan makanan dalam jumlah banyak dalam satu waktu. Waktu makan yang terlalu dekat dengan waktu tidur. Terlalu banyak makan makanan pemicu asam lambung, seperti makanan pedas, asam, berlemak, dan digoreng. Minum kopi atau teh. Minum alkohol. Mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid NSAID, seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen. Diagnosis Gejala GERD yang ringan umumnya dapat diatasi dengan obat-obatan tanpa resep. Namun, jika gejala bertambah buruk dan terulang kembali, dokter kemungkinan akan menyarankan sejumlah tes untuk mendiagnosis penyebabnya. Berbagai pemeriksaan untuk mendeteksi adanya penyakit GERD yakni di bawah ini. 1. Endoskopi Endoskopi dilakukan dengan cara memasukkan sebuah tabung lentur yang dilengkapi kamera kecil ke dalam kerongkongan. Selama endoskopi, dokter juga bisa melakukan prosedur lain, misalnya mengambil sampel jaringan biopsi guna mendeteksi barrett esophagus. 2. Esophageal manometry Prosedur esophageal manometry ini dilakukan dengan memasukkan tabung lentur ke dalam kerongkongan. Hasil tes akan menunjukkan seberapa baik fungsi kerongkongan, termasuk apakah otot-ototnya mampu menggerakkan makanan dengan lancar menuju lambung. 3. Pengukuran pH esofagus Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan monitor ke dalam kerongkongan guna mengetahui kapan asam lambung naik kembali melewati kerongkongan. Nilai pH keasaman akan menunjukkan seberapa asam kondisi kerongkongan Anda. 4. Tes pencitraan Tes pencitraan dengan X-ray atau rontgen atas sistem pencernaan dilakukan untuk melihat gambaran keseluruhan kerongkongan, lambung, dan usus bagian atas. Tes ini juga kerap melibatkan penggunaan cairan barium untuk memperjelas struktur saluran pencernaan. Obat dan pengobatan Langkah pertama yang biasanya dilakukan untuk mengobati penyakit GERD yakni konsumsi obat. Jika pemakaian obat tidak memberikan hasil, dokter biasanya akan menyarankan prosedur tertentu untuk mengatasi masalah langsung pada lambung. 1. Konsumsi obat-obatan tanpa resep Sebagian besar obat GERD bekerja dengan mengurangi jumlah asam yang dihasilkan oleh lambung. Selain itu, di bawah ini beberapa jenis pilihan obat-obatan yang dijual bebas OTC lainnya untuk mengobati GERD. Antasida Obat ini berguna untuk menetralisasi asam yang ada dalam lambung dengan bantuan bahan kimia alkali. Sifat basa dari obat antasida akan meningkatkan pH lambung dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada lambung akibat paparan asam. Namun, konsumsi obat antasida saja tidak cukup untuk memulihkan kerongkongan yang meradang akibat asam lambung. Anda juga tidak boleh mengonsumsinya terlalu sering karena bisa menimbulkan efek samping berupa diare, sembelit, serta gangguan ginjal. Obat-obatan untuk mengurangi jumlah asam Obat-obatan yang termasuk dalam kategori ini yakni H-2 receptor blocker. Obat ini dapat mengurangi jumlah asam lambung dengan menghambat kerja sel-sel penghasil asam lambung. Contoh obat yang termasuk golongan H-2 receptor blocker cimetidine, famotidine, nizatidine, dan ranitidine. Perlu diketahui bahwa kerja H-2 receptor blocker tidak secepat obat antasida. Meski begitu, H-2 receptor blocker termasuk obat GERD yang cukup efektif karena membantu mengurangi produksi asam lambung dalam waktu yang cukup lama, yakni hingga 12 jam. Obat-obatan untuk menghambat produksi asam lambung Penghambat pompa proton PPI termasuk ke dalam golongan obat yang berfungsi sebagai penghambat produksi asam. Tak hanya itu, PPI juga membantu memulihkan kondisi kerongkongan yang mengalami iritasi akibat paparan asam terus-menerus.. Obat PPI untuk mengatasi GERD merupakan obat penghambat produksi asam yang lebih kuat ketimbang H-2 receptor blocker. Contoh obat PPI yang dijual bebas antara lain lansoprazole dan omeprazole. 2. Konsumsi obat-obatan dengan resep Obat-obatan tanpa resep terkadang hanya meredakan gejala, tetapi tidak mencegah kambuhnya GERD. Pada kasus seperti ini, Anda mungkin membutuhkan obat dengan resep yang efeknya lebih kuat. Berikut beberapa contohnya. Obat H-2 receptor blocker dengan resep Jenis obat-obatan ini meliputi famotidine, nizatidine, dan ranitidine yang hanya bisa diperoleh melalui resep dokter. Obat-obatan ini umumnya boleh digunakan selama jangka waktu tertentu dengan pemantauan dokter. Kendati ampuh, obat H-2 receptor blocker dengan resep tidak boleh menjadi andalan untuk pengobatan jangka panjang. Pasalnya, penggunaan obat dalam jangka panjang berisiko mengakibatkan kekurangan vitamin B12 dan patah tulang. Penghambat pompa proton PPI dengan resep Jenis obat-obatan ini termasuk esomeprazole, lansoprazole, omeprazole, rabeprazole, pantoprazole, dan dexlansoprazole. Seperti halnya H-2 receptor blocker, obat-obatan PPI dengan resep ini bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Hanya saja, tetap ada risiko munculnya efek samping berupa diare, sakit kepala, mual, kekurangan vitamin B12, hingga kemungkinan patah tulang pinggul. Oleh sebab itu, Anda harus mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. Obat untuk memperkuat katup sfingter kerongkongan Baclofen yaitu obat yang dapat membantu meredakan gejala GERD dengan cara mengurangi frekuensi terbukanya katup kerongkongan bagian bawah. Obat ini bisa menimbulkan efek samping berupa kelelahan dan rasa mual. Penting untuk diingat bahwa obat resep maupun yang dijual bebas untuk mengatasi GERD dapat menimbulkan satu atau beberapa efek samping. Konsultasikan kepada dokter bila Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran seputar penggunaan obat. 3. Tindakan operasi Operasi merupakan cara lain yang bisa ditempuh jika gejala GERD tidak kunjung membaik walaupun Anda sudah meminum obat-obatan. Di bawah ini jenis operasi yang biasanya dilakukan untuk mengobati GERD. Fundoplication Fundoplication dilakukan dengan mengikat bagian atas lambung atau bagian bawah sfingter kardia. Tujuannya untuk mengencangkan otot pada katup kerongkongan agar bisa kembali mencegah naiknya asam lambung. Tindakan ini menggunakan alat yang disebut laparoskop. Alat ini dilengkapi kamera kecil pada ujungnya yang membantu dokter melihat kondisi organ pencernaan Anda dari dalam Saat menjalani operasi GERD, pasien akan dibius untuk mengurangi rasa sakit. Pemulihan setelah tindakan operasi ini umumnya cukup cepat, yaitu sekitar 1 – 3 hari hingga pasien diizinkan pulang. Namun, pasien baru boleh beraktivitas normal setelah 2 – 3 minggu pascaoperasi atau jika dokter telah mengizinkan. Endoskopi Selain berfungsi sebagai pemeriksaan penunjang, endoskopi juga membantu dokter mengobati GERD. Dokter akan memasukkan alat khusus bersama endoskop. Alat ini dapat membuat luka bakar kecil yang akan membantu memperkuat otot-otot sfingter. LINX Prosedur ini melibatkan pemasangan cincin yang dililitkan pada perbatasan organ lambung dan kerongkongan. Selanjutnya, akan muncul daya tarik magnetis yang cukup kuat pada cincin tersebut untuk memperkuat kerja katup kerongkongan agar tetap tertutup. Pengobatan di rumah Selain dengan mengonsumsi obat-obatan, biasanya dokter menganjurkan pasien untuk melakukan perubahan gaya hidup. Di bawah ini beberapa gaya hidup serta pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi penyakit GERD. Memilih makanan yang tepat dan sehat. Misalnya lebih banyak mengonsumsi buah dan sayuran, serta mengurangi makanan yang bisa memicu GERD. Mengurangi makan gorengan, makanan berlemak, dan makanan pedas. Tidak langsung berbaring setelah makan. Sebaiknya beri jeda minimal 2 – 3 jam setelah makan dan sebelum Anda tidur. Mengonsumsi obat yang dianjurkan oleh dokter, baik itu obat yang dijual bebas OTC maupun obat-obatan resep. Meninggikan posisi kepala selama tidur menggunakan bantal yang ditumpuk. Posisi kepala yang lebih tinggi daripada tubuh bisa membantu meredakan sakit pada ulu hati karena kenaikan asam lambung. Menghindari kebiasaan merokok. Menghindari minum minuman beralkohol, kopi, dan teh. Menghindari konsumsi beberapa jenis obat yang bisa semakin memperburuk gejala, misalnya obat pereda nyeri seperti aspirin. Menurunkan berat badan bila berlebih dan menjaganya bila sudah ideal. Makan dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan. Dikutip dari American College of Gastroenterology, beberapa penelitian terdahulu membuktikan bahwa perubahan gaya hidup yang dilakukan dengan konsisten mampu mencegah asam lambung naik. Pencegahan Di bawah ini berbagai tips yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penyakit GERD. Selalu makan dalam porsi secukupnya. Jika Anda ingin makan lebih banyak, sebaiknya makanlah lebih sering dalam porsi yang kecil. Menjaga berat badan tetap dalam rentang normal. Tidak memakai pakaian yang terlalu ketat, terutama pada bagian perut karena berisiko menekan katup kerongkongan bagian bawah. Tidak membiasakan diri langsung tidur setelah makan. Tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur. Menghindari beberapa jenis makanan dan minuman yang bisa memicu gejala GERD. GERD gastroesophageal reflux disease merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan. Penyakit ini dapat ditangani dengan obat-obatan, tapi beberapa kasus GERD mungkin cukup parah sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut. Jika Anda masih kerap mengalami gejala GERD walaupun sudah mencoba melakukan upaya pengobatan mandiri, sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter. “Mens Sana In Corpore Sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat". Demikianlah pepatah Latin yang kali pertama dipopulerkan oleh seorang pujangga Romawi pada abad kedua Masehi, Decimus Iunius Juvenalis. Sebuah pepatah yang mengisyaratkan betapa pentingnya arti kesehatan bagi kehidupan manusia. Ya, kesehatan. Sebuah masalah yang sering diabaikan oleh manusia di era modern ini. Terlebih bagi masyarakat perkotaan yang lebih sering menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja, tanpa mau mempedulikan sebuah nikmat Tuhan yang namanya ya, berbicara tentang kesehatan, saya jadi ingat kejadian di bulan puasa kemarin. Entah karena terlambat makan atau terlalu banyak minum kopi, yang jelas di minggu terakhir bulan puasa, asam lambung saya naik. Akibatnya lambung terasa mual disertai rasa nyeri di dada. Naiknya asam ke kerongkongan dan mulut juga menyebabkan lidah saya terasa asam sekaligus pahit. Kondisi tersebut menyebabkan saya merasa kesulitan untuk menelan. Dan yang memperparah lagi adalah setiap saya makan, rasanya selalu ingin muntah. Akhirnya, mau tidak mau saya pergi ke dokter untuk berobat. Dan beruntung satu hari sebelum hari raya, kondisi badan saya sudah mulai membaik, sehingga dapat berlebaran bersama sudah tau tentang penyakit asam lambung yang naik ke kerongkongan kan? Menurut ilmu kedokteran, penyakit ini disebut GERD Gastro Esophageal Reflux Disease. Ciri-ciri gejala ini adalah rasa panas di dada, rasa tidak nyaman dan sakit saat menelan. Gejala tambahannya meliputi serangan asam yang frekuen, suara serak, lambung terasa mual yang disertai rasa ingin muntah, nyeri dada nonkardiak, dan sering penjelasan dokter, saya jadi tahu bahwa naiknya asam lambung ini adalah suatu gejala maag, yaitu terjadinya luka atau peradangan pada lambung. Faktor penyebabnya sendiri yang paling sering, selain karena pola makan yang tidak teratur, adalah konsumsi kopi, cokelat, alkohol, rokok, serta makanan berlemak yang berlebihan. Unsur-unsur yang terdapat pada makanan tersebut, menurut dokter membuat otot LES Lower Esophageal Sphincter tidak berfungsi dengan baik, sehingga produksi asam lambung akan berlebihan, kemudian naik ke kerongkongan. Kata pepatah, “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Sepakat ya? Nah, bagaimana mencegah naiknya asam lambung? Karena penyebab yang paling sering memicu terjadinya asam lambung adalah faktor makanan, maka cara mencegahnya adalah dengan menerapkan pola makan yang sehat. Mulai dari makan teratur, menghindari alkohol dan rokok, serta mengurangi makanan atau minuman yang memicu naiknya asam lambung. Beberapa di antaranya adalah coklat, keju, mie, kopi, teh, daging, kentang goreng, dan minuman-minuman yang dilema memang. Di satu sisi, di antara makanan dan minuman tersebut di atas, seperti coklat, keju, mie, kopi, teh, daging, dan kentang goreng adalah makanan dan minuman favorit kita. Di sisi lain, sebagian di antara kita, termasuk saya mempunyai riwayat kecenderungan asam lambung yang berlebihan. Sehingga tak jarang, karena demi menuruti hasrat makan dan minum sesuatu yang kita sukai tersebut, akhirnya asam lambung kita meningkat. Akibatnya, terjadilah yang namanya penyakit bagaimana solusinya? Jika kita termasuk orang yang tidak bisa menahan godaan makanan dan minuman kesukaan yang memicu naiknya asam lambung, maka solusinya cuma satu, yaitu mengkonsumsi ramuan yang bisa membantu kinerja lambung. Ramuan tersebut bisa kita dapatkan dari kunyit, daun jambu biji, biji pepaya, ataupun kacang kedelai. Namun, jika tidak mau repot, maka kita bisa mengganti ramuan-ramuan tradisional tersebut dengan mengkonsumsi kenal dengan Colidan kan? Pastinya sudah ya? Tapi kalau belum, bolehlah saya kenalkan. Colidan adalah suplemen kesehatan yang diproduksi oleh PT. Pharos Indonesia, salah industri farmasi terbesar di Indonesia. Suplemen tersebut berfungsi untuk memelihara dan menjaga kesehatan lambung, serta membantu proses pemulihan lambung. Tapi, kenapa harus Colidan? Ada beberapa alasan yang menjadikan Colidan ini lebih unggul untuk dijadikan obat asam lambung serta obat penyakit maag, dibanding dengan obat atau suplemen sejenis lainnya. Di antaranyaPertama, Colidan terbuat dari bahan-bahan alami, yaitu Mozuku Cladosiphon Okamuranus Tokida, atau yang lebih sering dikenal dengan Fucoidan, sari ganggang laut coklat yang berasal dari perairan laut lepas Okinawa, Jepang. Karena terbuat dari bahan alami, maka Colidan tidak menyebabkan efek samping apapun, meskipun dikonsumsi dalam jangka bahan alami Fucoidan yang mengandung polisakarida memiliki viskositas yang tinggi, sehingga sangat efektif sebagai obat asam lambung, yakni dengan membentuk lapisan yang melindungi mukosa lambung dari iritasi asam lambung. Efek optimal ini akan terasa jika kita secara rutin minum Colidan menurut aturan selain sebagai obat asam lambung, Fucoidan yang terdapat pada Colidan juga sangat ampuh sebagai obat penyakit maag. Dalam study klinis menunjukkan bahwa konsumsi rutin Fucoidan sesuai dengan anjuran selama dua minggu maka keluhan sakit maag akan membaik. Setelah dua minggu, selanjutnya kita tinggal mengkonsumsi Fucoidan dengan dosis 50 mg sehari untuk mendapatkan perlindungan lambung sepanjang Colidan dapat diminum kapan saja, baik sebelum ataupun sesudah makan. Namun, karena fungsi Colidan sebagai perlindungan lambung dari iritasi asam lambung, maka waktu yang paling tepat untuk meminumnya adalah pada saat pagi hari setelah sarapan pagi, serta sore hari sebelum makan Colidan dapat dikonsumsi oleh siapa saja, termasuk untuk anak-­anak dengan batasan usia 6­-12 tahun dengan dosis 50 mg sehari 2 kali. Bahkan Colidan juga tetap aman dikonsumsi oleh wanita hamil, penderita penyakit kronis seperti jantung, diabetes, ginjal, dan lain-lain. Namun untuk beberapa kondisi khusus, tentu sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter terlebih lagi, yang membedakan Colidan dengan obat penyakit maag lain adalah sistem kerjanya. Jika obat maag yang lain mengatasi gejala sakit maag dengan cepat, maka Colidan baru memberikan efek perlindungan setelah 1-3 jam sejak kita meminumnya. Namun yang memnuatnya ampuh adalah Colidan memiliki efek perlindungan yang panjang, sehingga sakit maag tidak kambuh lagi. Berbeda dengan obat penyakit maag lainnya yang hanya mengatasi gejala sakit maag yang selalu kambuh dapat dikonsumsi oleh siapa saja, baik yang sudah pernah mengalami gangguan lambung maupun yang belum pernah. Bagi penderita gangguan lambung termasuk saya, maka Colidan berfungsi sebagai obat asam lambung yang dapat membantu memaksimalkan proses penyembuhannya. Sedangkan bagi yang belum pernah mengalami gangguan lambung, jika Colidan dikonsumsi secara teratur, maka dapat membantu memelihara kesehatan lambung secara mengkonsumsi Colidan secara teratur, maka kita tak perlu lagi mengkhawatirkan sakit maag setelah mengkonsumsi makanan dan minuman favorit yang memicu naiknya asam lambung. Karena kandungan polisakarida pada Colidan akan membentuk selaput yang melindungi dinding lambung. Perlindungan tersebut sudah pasti akan menghindarkan kita dari iritasi akibat enzyme dan asam lambung, serta infeksi bakteri dari makanan dan minuman yang kita sejak kenal dengan Colidan, saya berani makan apapun, tanpa takut asam lambung naik. Anda tentu juga ingin demikian kan? Makanya, yuk jadikan Colidan sebagai sahabat lambung. Oh ya, Colidan ini bisa kita dapatkan di beberapa apotek terdekat di sekitar kita. Atau jika ingin praktis, Anda bisa membelinya di Jangan tunda lagi ya, karena terbukti hanya Colidan yang bisa menjadi sahabat lambung, sekaligus obat sakit maag paling ampuh. *Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Contest Colidan Selain meresepkan obat batuk, dokter mencurigai adanya penyakit refluks asam lambung GERD. Akan tetapi, saya tidak yakin karena sesi konsultasi yang terlalu singkat. Saya akhirnya membiarkan kondisi ini berlangsung selama tiga minggu dengan sedikit keyakinan bahwa saya mengalami bronkitis ringan. Saya bahkan membeli obat-obatan generik untuk penyakit ini. Meski begitu, tetap saja tidak ada hasilnya. Batuk kering saya terus berlanjut. Bolak-balik ke dokter mencari jawaban Memasuki Maret 2020, batuk saya semakin parah dan napas saya terasa kian sesak. Bahkan setelah beberapa kali berobat ke dokter THT, kondisi saya tidak kunjung membaik. Saya akhirnya memberanikan diri untuk menjalani pemeriksaan paru-paru. Dokter tidak menemukan masalah pada paru-paru ataupun fungsi jantung saya, tetapi lagi-lagi dokter mencurigai adanya GERD. Dokter bertanya apakah saya punya riwayat penyakit lambung. Saya jawab tidak. Seusai pemeriksaan medis yang pertama, saya masih terus mengalami gejala. Pada saat yang sama, saya juga masih berupaya mencari opini kedua dari sejumlah dokter. Setelah perjalanan panjang mencari tahu kondisi yang saya alami, barulah saya paham bahwa saya mengidap penyakit GERD anxiety. Proses pencarian dokter hingga memperoleh diagnosis memang rumit dan panjang, tetapi saya bersyukur karena merasa mendapatkan sebuah “pencerahan”. Ternyata, saya tidak takut ke dokter bila dokternya tepat. Kata “tepat” yang saya maksud adalah dokter tersebut menjelaskan hasil diagnosis tanpa membuat saya lebih panik. Jika dokter tersebut ramah, pengertian, dan berusaha meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja, saya pun akan baik-baik saja. Sebaliknya, saya malah semakin cemas bila dokter langsung begitu saja mencurigai bahwa kondisi saya berkaitan dengan suatu penyakit parah. Saya yang pada dasarnya mudah cemas dan terus mengkhawatirkan akan terkena penyakit serius justru akan semakin cemas lagi. GERD dan kecemasan bagai lingkaran setan Dua hal yang sangat identik dengan GERD yaitu stres dan kecemasan. Ibarat lingkaran setan, GERD dan kecemasan saling memperparah satu sama lain. Ini jugalah yang saya alami selama beberapa tahun terakhir. Ketika dokter bertanya apakah saya stres dengan pekerjaan, saya menjawab ya. Akan tetapi, saya yakin bahwa stres karena pekerjaan bukan pemicu GERD saya. Rasa sedih dan marah tidak berpengaruh banyak, tapi lain halnya dengan kecemasan dan rasa panik. Saya panik ketika tubuh saya menunjukkan gejala tertentu, entah itu ruam kulit, batuk, atau lainnya. Setiap kali saya mengalami panik dan merasa cemas, penyakit asam lambung saya akan kambuh. Saat GERD saya kambuh, saya pun semakin menjadi cemas. Begitu seterusnya siklus GERD dan kecemasan ini berputar. Makanan pemicu GERD sebetulnya juga bisa membuat saya kambuh, tapi tidak sampai menyebabkan sesak napas atau nyeri di ulu hati heartburn yang parah. GERD saya biasanya muncul bila saya mengalami kondisi fisik atau gejala yang saya tidak ketahui penyebabnya. Ditambah lagi, pandemi membuat saya harus bekerja penuh dari rumah. Selama ini, pikiran buruk saya terkendali dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Namun, rutinitas bekerja di rumah lebih monoton sehingga mengontrol pikiran buruk terasa jauh lebih sulit. Sejak bekerja penuh dari rumah, saya sulit berpikir jernih dan dikuasai oleh kekhawatiran akan terkena penyakit. Ini pula yang membuat saya jadi lebih sering pergi ke dokter, padahal saya tidak mendapatkan diagnosis atau hasil apa pun. Saat betul-betul cemas, saya bahkan menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli produk-produk herbal. Produk herbal yang pernah saya beli di antaranya bubuk DNA salmon, suplemen untuk jantung dan pencernaan, serta jus bawang putih penurun kolesterol. Satu lagi yang tidak bisa dipungkiri, kecemasan saya juga berpengaruh pada hubungan dengan orang-orang terdekat, khususnya ibu dan pasangan. Saya takut sikap saya berlebihan dan membuat mereka lelah, tapi saya kesulitan untuk mengontrol kecemasan ini. Perjalanan menjalani bermacam-macam pengobatan Setelah saya didiagnosis dengan GERD, dokter memberikan saya resep obat GERD dan menjelaskan pantangannya. Saya tidak hanya harus pilah-pilih makanan, tapi juga mengelola stres, mengatur porsi makan, hingga tidur menghadap arah tertentu. Dokter juga menjelaskan bahwa kerongkongan saya bertekstur akibat asam lambung yang sering naik. Untungnya, kondisi ini bisa pulih meskipun butuh waktu lama. Saya juga diobati dengan obat khusus yang dioleskan langsung ke kerongkongan saya. Kabar baiknya, gejala GERD anxiety saya sudah tidak kambuh selama beberapa bulan terakhir. Rasa cemas saya akan penyakit memang masih ada, tapi kini saya berupaya mengontrolnya dengan beberapa cara. Langkah pertama yang saya lakukan yaitu berusaha memahami dari mana datangnya kecemasan tersebut. Setelah berpikir lama dan curhat kepada orang tua, saya pun paham bahwa perasaan ini sebenarnya datang dari rasa takut akan kematian. Saya sempat berkonsultasi kepada psikolog dan dianjurkan untuk mencoba journaling. Cara ini berhasil mengurangi rasa cemas setelah saya melakukannya selama beberapa minggu. Hanya saja, saya belum sempat melakukannya lagi karena pekerjaan. Setiap kali membaca jurnal tersebut kembali, saya merasa tenang karena saat ini saya baik-baik saja. Rasa cemas akan hadirnya penyakit masih ada, tetapi saya juga tidak akan menyerah dalam mencari cara untuk mengendalikannya. Saya bertekad menggunakannya untuk lebih mengenal diri sebab dengan cara itulah saya bisa mengontrol ketakutan. Semakin saya mampu mengontrol rasa takut, semakin saya memahami caranya menjaga kesehatan jasmani dan rohani diri saya. Inno 25 bercerita untuk pembaca Hello Sehat.

testimoni colidan untuk gerd